Rabu, 08 April 2015

BAB 2 | Pasukan Tentara Hati

Allah Swt. berfirman, "Tak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia (Allah Swt.) sendiri". (QS. Al-Muddatstsir [74]: 31). Berdasarkan itu dapatlah diketahui bahwa Allah Swt. mempunyai --dalam hati dan ruh makhluk-Nya serta dalam alam-alamNya yang lain-- 'tentara' yang terhimpun, tak siapapun --selain Allah Swt. sendiri-- mengetahui hakikatnya maupun rincian jumlahnya. Adapun kini, kami hanya ingin menyebutkan secara singkat, tentang sebagian dari tentara hati. Sebab itulah yang berkaitan dengan tujuan kita.

Hati (atau kalbu) mempunyai dua macam tentara: Pertama, yang dapat dilihat dengan mata kepala, dan yang Kedua, tidak dapat dilihat kecuali dengan mata hati. Dalam hal ini, hati seolah-olah sebagai Raja, sedangkan tentaranya sebagai para pelayan dan pembantu. Itulah yang dimaksud dengan 'pasukan tentara hati'.

Tentara hati yang dapat dilihat dengan mata kepala adalah tangan, kaki, mata, telinga, lidah dan semua anggota tubuh, yang tampak diluar maupun yang berada didalam tubuh. Semua itu bertugas melayani hati dan diciptakan untuk mengikuti perintahnya. Maka hati berkuasa penuh atasnya serta mengendalikannya sesuai keinginannya. Dan semua itu memang diciptakan untuk senantiasa tunduk patuh kepada hati, tak mungkin melawan ataupun memberontak terhadapnya. Apabila hati memerintahkan mata agar terbuka, iapun terbuka. Dan apabila hati memerintahkan kaki agar bergerak, iapun bergerak. Dan apabila hati memerintahkan lidah untuk berbicara --seraya menegaskan perintahnya itu-- maka lidahpun akan berbicara. Demikian pula anggota tubuh yang lain. Maka --pada satu sisi-- ketundukan semua anggota tubuh dan indera kepada hati, mirip dengan ketundukan para malaikat kepada Allah Swt. Sebab, semua malaikatpun memang diciptakan untuk tunduk patuh, takkan mungkin mereka bersikap berlawanan dengan Allah Swt., dan takkan mungkin mereka membangkang terhadap apa saja yang diperintahkan Allah Swt. Tugas mereka satu-satunya hanyalah melaksanakan apa saja perintah Allah kepada mereka. Hanya saja ada perbedaan antara sifat ketaatan malaikat dan ketaatan anggota tubuh. Para malaikat itu sadar sepenuhnya akan ketundukan dan ketaatannya, semenara bulu mata, misalnya, mematuhi hati --dalam hal terbuka atau tertutupnya-- secara otomatis, tanpa menyadari keberadaannya sendiri ataupun kepatuhannya kepada hati.

Adapun kebutuhan hati kepada tentaranya ini, sama seperti kebutuhannya kepada kendaraan dan bekal untuk 'perjalanannya', yang memang untuk itu ia diciptakan. Yakni perjalanan menuju Allah Swt., melewati bermacam-macam terminal, untuk berjumpa dengan-Nya. Untuk itulah hati (kalbu) diciptakan. "Dan tiadalah Aku (Allah Swt.) menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengabdi kepada-Ku". (QS. Adz-Dzariat [51]: 56). Adapun kendaraan hati adalah tubuhnya, dan bekalnya adalah adalah ilmu. Sedangkan sarana yang dapat menyampaikannya kepada bekalnya itu serta pemanfaatannya, adalah amal salehnya semata-mata. Dalam kenyataannya, seorang hamba takkan mungkin sampai kepada Allah Swt. sebelum tubuhnya diam (mati) tak bergerak lagi, dan sebelum ia melewati (kehidupan) dunia ini. Ini mengingat bahwa ia harus terlebih dahulu melewati tempat perhentiannya yang terdekat, sebelum sampai ke perhentiannya yang terjauh (yakni akhirat). Sebab, dunia ini adalah ladang akhirat. Dan ia juga adalah sebuah terminal (atau tempat perhentian) hidayah. Dinamakan 'dunia' (dari kata bahasa Arab dun-ya) yang berarti terdekat; yakni terminal yang terdekat diantara dua terminal. Maka hati manusia terpaksa mengambil bekal dari alam (dunia) ini, mengingat bahwa tubuh adalah kendaraan yang akan mengantarkannya ke alam lain. Untuk itu, ia perlu menjaga kesehatan tubuh, dengan (1) menyediakan makanan yang cocok baginya dan (2) menjauhkan dari penyakit-penyakit yang akan menyebabkan kebinasaannya.

Dengan demikian, untuk menyediakan makanan seperti itu, ia memerlukan dua jenis tentara: (1) yang batiniah, yaitu syahwah (ambisi, hasrat, selera makan, nafsu birahi dan sebagainya); dan (2) yang lahiriah, yaitu tangan serta anggota-anggota tubuh lainnya yang mampu mendatangkan makanan (dan berbagai kebutuhan lain). Maka diciptakanlah pelbagai macam syahwah yang diperlukan --dalam hati-- dan diciptakanlah pula anggota-anggota-anggota tubuh yang merupakan alat bagi pemenuhan syahwahnya itu.

Adapun untuk berhasil membela diri melawan berbagai penyebab kebinasaannya, hati memerlukan dua jenis pasukan tentara (1) tentara batiniah, yaitu ghadhab (amarah atau emosi) yang dengannya ia akan mampu menolak pelbagai bahaya yang dapat membinasakan dirinya, dan melakukan pembalasan terhadap musuh-musuhnya. Dan (2) tentara lahiriah, yaitu anggota tubuh, seperti tangan dan kaki yang dengannya ia dapat bertindak berdasarkan sifat ghadhab (atau emosi) yang dimilikinya. Semuanya itu terjadi diluar upayanya sendiri, sehingga anggota-anggota tubuhnya menjadi semacam senjata atau peralatan lain yang diperlukannya.

Disamping itu, seorang yang memerlukan makanan, tidak akan memperoleh sesuatu dari sekadar keinginannya untuk makan, sepanjang ia belum mengetahui tentang makanannya itu. Maka untuk itu ia membutuhkan dua jenis lagi tentara: (1) tentara batiniyah, yaitu indera pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan, dan perasaan. Dan (2) tentara lahiriah, yaitu mata, telinga, hidung dan sebagainya. Adapun rincian kadar keperluan maupun hikmah dibalik keperluan tersebut, amat sangat luas, tidak mungkin tercakup dalam berjilid-jilid buku.

Beberapa Jenis Tentara Hati
Keseluruhan tentara hati tercakup dalam tiga jenis:
Pertama, yang berfungsi sebagai pembangkit atau pendorong, baik untuk mendatangkan sesuatu yang bermanfaat dan cocok baginya, seperti halnya naluri syahwah (ambisi, hasrat, dan sebagainya), ataupun untuk menolak sesuatu yang bermudharat dan merugikan, seperti halnya naluri ghadhab (emosi atau amarah). Pendorong seperti ini adakalanya juga disebut : 'keinginan' atau 'kehendak' (iradah).

Kedua, yang berfungsi sebagai penggerak anggota tubuh demi mencapai pelbagai tujuan. Penggerak seperti ini, adakalanya disebut qudrah (kemampuan); tersebar diseluruh tubuh, terutama dalam otot-otot dan urat-urat.

Ketiga, yang berfungsi sebagai instrumen yang mencerap (atau yang berpersepsi) dan mencari tahu tentang segala sesuatunya, seperti yang dilakukan oleh seorang mata-mata. Yaitu, indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan alat perasa, yang kesemuanya tersebar diberbagai anggota tubuh tertentu. Karenanya, semua itu disebut instrumen pengetahuan (al-'ilm) dan pencerapan (al-idrak).

Dan bersama setiap 'tentara hati' yang berada dalam batinmanusia, ada pula tentara jasmani, berupa organ tubuh yang terdiri atas lemak, daging, urat, darah dan tulang, yang kesemuanya itu memang dipersiapkan sebagai perlengkapan bagisemua pasukan tentara tersebut. Daya untuk memegang berada pada jemari tangan, dan daya penglihatan berada pada mata, dan begitulah seterusnya. Namun kami tidak hendak berbicara tentang oragan-organ tubuh, sebab hal itu termasuk bagian dari alam nyata dan kasat mata ('alam al-mulk wa asy-syahadah); sementara yang akan kita bahas disini adalah tentang 'tentara-tentara batiniah' yang tidak tampakbagi manusia.

Jenis ketiga --yang berupa instrumen pengetahuan dan pencerapan-- terbagi lagi menjadi dua bagian. Pertama, yan diletakan pada bagian luar tubuh, seperti kelima anggota tubuh yang masing-masing untuk pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan, dan alat perasa. Dan kedua, yang diletakan dibagian dalam tubuh, atau yang biasa disebut rongga-rongga otak yang semuanya juga berjumlah lima. Setiap kali seseorang melihat suatu benda lalu memejamkan kedua matanya, ia akan melihat bentuk benda tersebut didalam benaknya. Yaitu yang disebut khayal (imajinasi). Kemudian bentuk itu tetap ada padanya melalui sesuatu yang kita sebut sebagai 'tentara penghafal' (yakni daya ingat). Setelah itu ia memikirkan tentang apa yang telah diingatnya itu, dengan menghubungkan bagian yang satu dengan yang lainnya. Kemudian ia akan teringat kembali kepada apa yang pernah dilupakannya, dan menghimpun kembali --dalam khayalnya-- seluruh makna yang berkaitan dengan benda-benda yang telah dikenalnya, dengan menggunakan al-hiss al-musytarak (common sense, dalam arti indera gabungan).

Demikianlah, dalam batin manusia ada yang  kita sebut 'indera gabungan' (common sense), pengkhayalan, pemikiran, pengingatan dan penghafalan. Dan seandainya Allah Swt tidak menciptakan daya hafal, daya pikir, daya ingat dan daya khayal, niscaya rongga-rongga otak akan kosong dari semua itu, sebagaimana halnya tangan dan kaki. Jelaslah bahwa semua jenis daya tersebut adalah termasuk 'tentara batiniah' yang berada di tempat-tempat batiniah pula.

Itulah bagian-bagian dari dari tentara hati yang untuk menjelaskan tentangnya --dengan membuat permisalan-permisalan tertentu, sehingga dapat dipahami oleh orang-orang yang lemah pemahamannya-- memerlukan uraian yang amat panjang. Padahal tujuan utama tulisan seperti ini adalah agar dapat dimanfaatkan oleh mereka yang kuat pemahamannya, atau para pakar yang jenius. Walaupun demikian, kami tetap akan berusaha sekuatnya agar dapat dipahami juga oleh mereka yang lemah, dengan membuat permisalan-permisalan tertentu yang lebih dekat ke-pemahaman mereka. --



Tidak ada komentar:

Posting Komentar