Rabu, 08 April 2015

BAB 3 | Permisalan Hati Dan Tentara Batiniahnya

Pasukan tentara hati yang berupa ghadhab (emosi) dan syahwah (ambisi), adakalanya tunduk patuh secara sempurna kepada hati, sehingga menjadi pembantu setianya dalam 'perjalanan' yang ia lakukan, dan menjadi teman sejati yang senantiasa menyertainya dalam melaksanakan tugasnya itu. Akan tetapi adakalanya juga, kedua 'tentara' itu bersikap membangkang secara aniaya dan durhaka. Sedemikian rupa, sehingga justru menguasai hati, dan bahkan memperbudaknya secara sempurna, mengakibatkan kebinasaannya dan menghentikan perjalanan yang seharusnya ia lakukan demi mencapai kebahagiaan abadinya.

Hati juga mempunyai tentara yang lain, yaitu Ilmu, Hikmah dan Tafakur, seperti yang akan diuraikan kemudian. Maka seharusnya ia mencari bantuan dari mereka --mengingat mereka adalah HizbuLLah (kelompok atau 'partai' Allah)-- dalam upaya memerangi kedua tentara yang lain (yakni tentara ghadhab dan syahwah). Karena kedua-duanya besar sekali kemungkinannya bergabung dengan Hizbu'sy-syaithan (partai setan).
Adapun jika ia tidak mencari bantuan dari ketiga tentara diatas (yakni ilmu, hikmah dan tafakur), lalu menguasakan tentara ghadhab dan syahwah atas dirinya sendiri, maka ia pasti akan binasa dan merugi sebesar-besarnya kerugian! 
Dan memang begitulah keadaan sebagian besar manusia. Akal mereka telah diperbudak oleh pelbagai dorongan syahwah guna menciptakan pelbagai variasi sarana pemuas hawa nafsu mereka. Padahal yang seharusnya dikakukan adalah justru menjadikan syahwahnya terkendali sepenuhnya oleh akal, agar dapat digunakan untuk kepentingannya. Untuk lebih menjelaskan hal itu, dibawah ini akan kami berikan tiga permisalan.

Misal Pertama, dengan mengibaratkan jiwa (atau hati) manusia --dalam pengertian sebagai lathifah yang merupakan jati dirinya, seperti telah dijelaskan pada permulaan tulisan ini-- sebagai seorang raja dipusat Negara dan Kerajaannya. Ini mengingat bahwa tubuh merupakan pusat kerajaan bagi jiwa, juga dunianya dan kota tempat tinggalnya. Sedangkan anggota-anggota tubuhnya serta segala daya dan potensi dirinya adalah ibarat para teknisi dan pekerja. Akal pikirannya sebagai penasihat yang tulus merangkap sebagai menteri yang pandai dan berakal. Sedangkan syahwah (ambisi)-nya ibarat seorang budak yang buruk perilakunya, yang tugasnya adalah mengangkut makanan dan barang-barang keperluan kedalam kota, sementara ghadhab (emosi)-nya serta naluri pembelaan dirinya yang bersemangat, ibarat petugas kepolisian. Budak yang bertugas menyediakan barang-barang tadi adalah juga seorang pendusta jahat yang berpura-pura sebagai penasihat, padahal dibalik nasihatnya tersembunyi kejahatan besar, serta racun yang mematikan. Dengan watak dan tabiatnya yang buruk itu, ia senantiasa berupaya melawan si menteri yang tulus, dalam pemikiran maupun peraturan-peraturan yang dibuatnya. Sedemikian rupa sehingga tak sesaatpun berlalu tanpa gangguan yang ditujukan kepadanya. Maka jika si raja senantiasa mendengarkan nasihat menterinya yang pandai dan tulus itu (yakni akal sehatnya) dalam pengelolaan negerinya, sementara ia tak sedikitpun menghiraukan apa yang diucapkan oleh si budak jahat (yakni syahwahnya), karena menyadari bahwa kebenaran justru terletak pada pemikiran yang berlawanan dengan keinginan si budak, maka ia akan memerintahkan aparat kepolisiannya (yakni ghadhabnya) untuk menangani tingkah laku kejahatan si budak, dengan mendidiknya sebaik mungkin, agar ia bersedia tunduk dan patuh terhadap kebijaksanaan sang menteri. Disamping itu, ia senantiasa waspada terhadap ulah si budak serta orang-orang yang menjadi pengikutnya atau kawan-kawannya, sehingga mereka ini menjadi kelompok yang dikendalikan, bukan yang mengendalikan; dan yang diperintah dan diatur, bukan yang memerintah dan yang mengatur. Jika seperti itu keadaannya, maka negeri itu akan menjadi makmur dan teratur dan keadilanpun akan dapat ditegakan dengan baik.

Begitu pula jiwa manusia, sepanjang ia menggunakan bantuan akal sehat, dan mampu mengendalikan sifat ghadhab (emosi)-nya, lalu memberinya kekuasaan atas syahwah (ambisi atau hawa nafsu)-nya, kemudian menguasakan yang satu atas yang lain demi mencapai kestabilan. Yaitu dengan cara kadang-kadang mengurangi kadar ghadhab dan gejolaknya, dengan membiarkan adanya perlawanandari syahwah, atau dengan cara menariknya secara perlahan-lahan dan bijaksana. Atau diwaktu yang lain, melakukan upaya represif terhadap syahwahnya itu, dengan memerintahkan kepada sifat ghadhab agar melakukan pengekangan dan penekanan kuat terhadapnya. Dengan demikian dapatlah diharapkan timbulnya keseimbangan serta perilaku yang terpuji dari syahwah (nafsu atau ambisi)-nya itu. Tanpa upaya-upaya seperti itu, ia akan menjadi seperti dalam firman Allah Swt., "Tidakkah kau lihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, sementara Allah membiarkannya sesat.." (QS. Al-Jatsiah [45]: 23). Atau dalam firman-Nya, "..ia mengikuti hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing; jika kamu menghalaunya, ia menjulurkan lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, ia (tetap) menjulurkannya.." (QS. Al-A'raf [7]: 176). Demikian pula firman Allah tentang orng yang mencegah dirinya daripada mengikuti hawa nafsunya, "Adapun siapa-siapa yang takut kepada maqam (keagungan) Tuhannya, dan mencegah dirinya daripada mengikuti hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga-lah yan menjadi tempat tinggalnya.." (QS. Nazi'at [79]: 40-41).

Misal Kedua, tubuh manusia ibarat sebuah kota, dengan akal dalam kedudukannya sebagai seorang raja yang memerintah dan mengatur kota tersebut. Sedangkan seluruh indera dan potensi dirinya --yang lahiriah maupun batiniah-- adalah ibarat tentara-tentara atau pembantu-pembantunya, dan anggota tubuhnya sebagai rakyatnya. Adapun nafsunya yang mendorong kearah kejahatan (al-ammarah bis-su') yang dipenuhi emosi dan ambisi, adalah ibarat musuh yang berusaha merebut kekuasaannya atas kota tersebut, bahkan berusaha menghancurkan rakyatnya. Maka tubuhnya itu menjadi laksana benteng, sementara hati (jiwa)-nya sebagai penanggung jawab didalamnya, yang bertugas menyelamatkan benteng tersebut. Apabila ia memerangi musuh dan mengalahkan mereka sesuai dengan tugasnya, maka ia akan beroleh pujian ketika menghadap kembali kepada Allah, dalam keadaan seperti dilukiskan dalam firman-Nya: "Allah mengutamakan orang-orang yang berjihad (dijalan Allah) dengan harta dan jiwa mereka, satu derajat diatas orang-orang yang tetap tinggal (yakni tidak ikut berjihad).." (QS. An-Nisa' [4]: 95). Sebaliknya, apabila ia melepaskan benteng-benteng tersebut dan menelantarkan rakyatnya, maka perbuatannya itu pasti mendatangkan kecaman keras, bahkan balasan keburukan disisi Allah Swt. seraya dikatakan kepadanya pada hari kiamat kelak, "Wahai gembalabusuk, engkau telah memakan daging dan meminum air susu (dari hewan gembalamu), tapi tidak melindungi yang tersesat dijalan dan tidakmemenuhi kebutuhan si penderita. Hari ini Aku menuntut balas atas dirimu". Tentang jihad seperti tersebut diatas juga diisyaratkan dalam sabda Nabi Saw.: "Kini kita pulang dari jihad kecil menuju jihad terbesar".

Misal Ketiga, perumpamaan akal ibarat seorang penunggang kuda yang sedang berburu. Adapun ambisi dalam hatinya diibaratkan seperti kudanya, sedangkan emosinya seperti anjingnya. Apabila si penunggang kuda seorang yang cerdas, sementara kudanya terlatih dan anjingnya terdidik, maka patutlah ia beroleh sukses. Tetapi apabila ia sendiri seorang bebal, sementara kudanya liar dan anjingnya gila, maka kudanya itu takkan menuruti perintahnya, sementara anjingnya takkan patuh kepadanya. Maka lebih besar kemungkinannya ia menemui kebinasaan daripada meraih keberhasilan. Adapun kebebalan si penunggang kuda dapat disamakan dengan kedunguan seorang manusia yang sedikit sekali kebijakannya dan amat picik pandangannya. Sedangkan keliaran kudanya disamakan dengan syahwah atau kerakusan hatinya yang sangat dominan, terutama kerakusan perut dan alat kelaminnya. Adapun tentang kegilaan anjingnya adalah ibarat kuatnya dominasi emosi atas dirinya sendiri. Demikianlah, kepada Allah Swt. kita memohon taufiq dan petunjuk-Nya. --


BAB 2 | Pasukan Tentara Hati

Allah Swt. berfirman, "Tak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia (Allah Swt.) sendiri". (QS. Al-Muddatstsir [74]: 31). Berdasarkan itu dapatlah diketahui bahwa Allah Swt. mempunyai --dalam hati dan ruh makhluk-Nya serta dalam alam-alamNya yang lain-- 'tentara' yang terhimpun, tak siapapun --selain Allah Swt. sendiri-- mengetahui hakikatnya maupun rincian jumlahnya. Adapun kini, kami hanya ingin menyebutkan secara singkat, tentang sebagian dari tentara hati. Sebab itulah yang berkaitan dengan tujuan kita.

Hati (atau kalbu) mempunyai dua macam tentara: Pertama, yang dapat dilihat dengan mata kepala, dan yang Kedua, tidak dapat dilihat kecuali dengan mata hati. Dalam hal ini, hati seolah-olah sebagai Raja, sedangkan tentaranya sebagai para pelayan dan pembantu. Itulah yang dimaksud dengan 'pasukan tentara hati'.

Tentara hati yang dapat dilihat dengan mata kepala adalah tangan, kaki, mata, telinga, lidah dan semua anggota tubuh, yang tampak diluar maupun yang berada didalam tubuh. Semua itu bertugas melayani hati dan diciptakan untuk mengikuti perintahnya. Maka hati berkuasa penuh atasnya serta mengendalikannya sesuai keinginannya. Dan semua itu memang diciptakan untuk senantiasa tunduk patuh kepada hati, tak mungkin melawan ataupun memberontak terhadapnya. Apabila hati memerintahkan mata agar terbuka, iapun terbuka. Dan apabila hati memerintahkan kaki agar bergerak, iapun bergerak. Dan apabila hati memerintahkan lidah untuk berbicara --seraya menegaskan perintahnya itu-- maka lidahpun akan berbicara. Demikian pula anggota tubuh yang lain. Maka --pada satu sisi-- ketundukan semua anggota tubuh dan indera kepada hati, mirip dengan ketundukan para malaikat kepada Allah Swt. Sebab, semua malaikatpun memang diciptakan untuk tunduk patuh, takkan mungkin mereka bersikap berlawanan dengan Allah Swt., dan takkan mungkin mereka membangkang terhadap apa saja yang diperintahkan Allah Swt. Tugas mereka satu-satunya hanyalah melaksanakan apa saja perintah Allah kepada mereka. Hanya saja ada perbedaan antara sifat ketaatan malaikat dan ketaatan anggota tubuh. Para malaikat itu sadar sepenuhnya akan ketundukan dan ketaatannya, semenara bulu mata, misalnya, mematuhi hati --dalam hal terbuka atau tertutupnya-- secara otomatis, tanpa menyadari keberadaannya sendiri ataupun kepatuhannya kepada hati.

Adapun kebutuhan hati kepada tentaranya ini, sama seperti kebutuhannya kepada kendaraan dan bekal untuk 'perjalanannya', yang memang untuk itu ia diciptakan. Yakni perjalanan menuju Allah Swt., melewati bermacam-macam terminal, untuk berjumpa dengan-Nya. Untuk itulah hati (kalbu) diciptakan. "Dan tiadalah Aku (Allah Swt.) menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengabdi kepada-Ku". (QS. Adz-Dzariat [51]: 56). Adapun kendaraan hati adalah tubuhnya, dan bekalnya adalah adalah ilmu. Sedangkan sarana yang dapat menyampaikannya kepada bekalnya itu serta pemanfaatannya, adalah amal salehnya semata-mata. Dalam kenyataannya, seorang hamba takkan mungkin sampai kepada Allah Swt. sebelum tubuhnya diam (mati) tak bergerak lagi, dan sebelum ia melewati (kehidupan) dunia ini. Ini mengingat bahwa ia harus terlebih dahulu melewati tempat perhentiannya yang terdekat, sebelum sampai ke perhentiannya yang terjauh (yakni akhirat). Sebab, dunia ini adalah ladang akhirat. Dan ia juga adalah sebuah terminal (atau tempat perhentian) hidayah. Dinamakan 'dunia' (dari kata bahasa Arab dun-ya) yang berarti terdekat; yakni terminal yang terdekat diantara dua terminal. Maka hati manusia terpaksa mengambil bekal dari alam (dunia) ini, mengingat bahwa tubuh adalah kendaraan yang akan mengantarkannya ke alam lain. Untuk itu, ia perlu menjaga kesehatan tubuh, dengan (1) menyediakan makanan yang cocok baginya dan (2) menjauhkan dari penyakit-penyakit yang akan menyebabkan kebinasaannya.

Dengan demikian, untuk menyediakan makanan seperti itu, ia memerlukan dua jenis tentara: (1) yang batiniah, yaitu syahwah (ambisi, hasrat, selera makan, nafsu birahi dan sebagainya); dan (2) yang lahiriah, yaitu tangan serta anggota-anggota tubuh lainnya yang mampu mendatangkan makanan (dan berbagai kebutuhan lain). Maka diciptakanlah pelbagai macam syahwah yang diperlukan --dalam hati-- dan diciptakanlah pula anggota-anggota-anggota tubuh yang merupakan alat bagi pemenuhan syahwahnya itu.

Adapun untuk berhasil membela diri melawan berbagai penyebab kebinasaannya, hati memerlukan dua jenis pasukan tentara (1) tentara batiniah, yaitu ghadhab (amarah atau emosi) yang dengannya ia akan mampu menolak pelbagai bahaya yang dapat membinasakan dirinya, dan melakukan pembalasan terhadap musuh-musuhnya. Dan (2) tentara lahiriah, yaitu anggota tubuh, seperti tangan dan kaki yang dengannya ia dapat bertindak berdasarkan sifat ghadhab (atau emosi) yang dimilikinya. Semuanya itu terjadi diluar upayanya sendiri, sehingga anggota-anggota tubuhnya menjadi semacam senjata atau peralatan lain yang diperlukannya.

Disamping itu, seorang yang memerlukan makanan, tidak akan memperoleh sesuatu dari sekadar keinginannya untuk makan, sepanjang ia belum mengetahui tentang makanannya itu. Maka untuk itu ia membutuhkan dua jenis lagi tentara: (1) tentara batiniyah, yaitu indera pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan, dan perasaan. Dan (2) tentara lahiriah, yaitu mata, telinga, hidung dan sebagainya. Adapun rincian kadar keperluan maupun hikmah dibalik keperluan tersebut, amat sangat luas, tidak mungkin tercakup dalam berjilid-jilid buku.

Beberapa Jenis Tentara Hati
Keseluruhan tentara hati tercakup dalam tiga jenis:
Pertama, yang berfungsi sebagai pembangkit atau pendorong, baik untuk mendatangkan sesuatu yang bermanfaat dan cocok baginya, seperti halnya naluri syahwah (ambisi, hasrat, dan sebagainya), ataupun untuk menolak sesuatu yang bermudharat dan merugikan, seperti halnya naluri ghadhab (emosi atau amarah). Pendorong seperti ini adakalanya juga disebut : 'keinginan' atau 'kehendak' (iradah).

Kedua, yang berfungsi sebagai penggerak anggota tubuh demi mencapai pelbagai tujuan. Penggerak seperti ini, adakalanya disebut qudrah (kemampuan); tersebar diseluruh tubuh, terutama dalam otot-otot dan urat-urat.

Ketiga, yang berfungsi sebagai instrumen yang mencerap (atau yang berpersepsi) dan mencari tahu tentang segala sesuatunya, seperti yang dilakukan oleh seorang mata-mata. Yaitu, indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan alat perasa, yang kesemuanya tersebar diberbagai anggota tubuh tertentu. Karenanya, semua itu disebut instrumen pengetahuan (al-'ilm) dan pencerapan (al-idrak).

Dan bersama setiap 'tentara hati' yang berada dalam batinmanusia, ada pula tentara jasmani, berupa organ tubuh yang terdiri atas lemak, daging, urat, darah dan tulang, yang kesemuanya itu memang dipersiapkan sebagai perlengkapan bagisemua pasukan tentara tersebut. Daya untuk memegang berada pada jemari tangan, dan daya penglihatan berada pada mata, dan begitulah seterusnya. Namun kami tidak hendak berbicara tentang oragan-organ tubuh, sebab hal itu termasuk bagian dari alam nyata dan kasat mata ('alam al-mulk wa asy-syahadah); sementara yang akan kita bahas disini adalah tentang 'tentara-tentara batiniah' yang tidak tampakbagi manusia.

Jenis ketiga --yang berupa instrumen pengetahuan dan pencerapan-- terbagi lagi menjadi dua bagian. Pertama, yan diletakan pada bagian luar tubuh, seperti kelima anggota tubuh yang masing-masing untuk pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan, dan alat perasa. Dan kedua, yang diletakan dibagian dalam tubuh, atau yang biasa disebut rongga-rongga otak yang semuanya juga berjumlah lima. Setiap kali seseorang melihat suatu benda lalu memejamkan kedua matanya, ia akan melihat bentuk benda tersebut didalam benaknya. Yaitu yang disebut khayal (imajinasi). Kemudian bentuk itu tetap ada padanya melalui sesuatu yang kita sebut sebagai 'tentara penghafal' (yakni daya ingat). Setelah itu ia memikirkan tentang apa yang telah diingatnya itu, dengan menghubungkan bagian yang satu dengan yang lainnya. Kemudian ia akan teringat kembali kepada apa yang pernah dilupakannya, dan menghimpun kembali --dalam khayalnya-- seluruh makna yang berkaitan dengan benda-benda yang telah dikenalnya, dengan menggunakan al-hiss al-musytarak (common sense, dalam arti indera gabungan).

Demikianlah, dalam batin manusia ada yang  kita sebut 'indera gabungan' (common sense), pengkhayalan, pemikiran, pengingatan dan penghafalan. Dan seandainya Allah Swt tidak menciptakan daya hafal, daya pikir, daya ingat dan daya khayal, niscaya rongga-rongga otak akan kosong dari semua itu, sebagaimana halnya tangan dan kaki. Jelaslah bahwa semua jenis daya tersebut adalah termasuk 'tentara batiniah' yang berada di tempat-tempat batiniah pula.

Itulah bagian-bagian dari dari tentara hati yang untuk menjelaskan tentangnya --dengan membuat permisalan-permisalan tertentu, sehingga dapat dipahami oleh orang-orang yang lemah pemahamannya-- memerlukan uraian yang amat panjang. Padahal tujuan utama tulisan seperti ini adalah agar dapat dimanfaatkan oleh mereka yang kuat pemahamannya, atau para pakar yang jenius. Walaupun demikian, kami tetap akan berusaha sekuatnya agar dapat dipahami juga oleh mereka yang lemah, dengan membuat permisalan-permisalan tertentu yang lebih dekat ke-pemahaman mereka. --



Selasa, 07 April 2015

BAB 1 | Uraian Tentang Makna Ruh, Hati, Nafs dan Akal

Bissmillahirrohmanirrohim.
Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad Saw. (Shallallahu 'alaihi wa alihi wa sallam)

Kata Pengantar
"Hati (kalbu) adalah lathifah (sesuatu yang amat halus dan lembut, tidak kasat mata, tak berupa dan tak dapat diraba) bersifat Rabbani Ruhani, dan -pada hakikatnya- merupakan inti manusia. Ia adalah komponen utama manusia, yang berpotensi mencerap (memiliki daya tanggap atau persepsi), yang mengetahui dan mengenal, yang ditujukan kepadanya segala pembicaraan dan penilaian, dan yang dikecam dan dimintai pertanggung jawaban."

Begitulah sebagian definisi "Hati" atau "kalbu" (qalb) dalam Keajaiban - Keajaiban Hati, buku karya Al-Ghazali ini, yang oleh seorang mantan Syaikh Al-Azhar di Mesir: Dr. Abdul Halim Mahmud -dalam bukunya yang berjudul Qadhiyyat At-Tashawwuf- disebut sebagai "salah satu bagian paling penting diantara bagian - bagian amat penting dari Kitab Ihya' Ulum Ad-Din, yang tidak boleh tidak, wajib ditelaah oleh siapa saja yang berkeinginan untuk terlibat dalam tasawuf secara praktis, maupun yang hanya ingin mengetahui hakikat tasawuf secara teoritis". Adapun penerjemah dari tulisan ini ialah Muhammad Al-Baqir.

"Sudah sepatutnya bagi pembaca karangan - karangan Al-Imam Al-Ghazali untuk mengambil manfaat dari muatan - muatan ruhaniyahnya yang amat tinggi nilainya, yang mampu melunakan hati yang keras dan menghadirkan akhirat selalu didepan mata. Inilah yang diperlukan manusia dalam abad materialistis yang keterlaluan ini, seraya pada saat yang sama, senantiasa bersikap hati - hati dan waspada terhadap segala bentuk ekstremitas yang dapat menjauhkan seorang Muslim dari manhaj agamanya yang moderat dan lurus."
(Dr. Yusuf Al-Qardhawiy dalam bukunya: Al-Imam Al-Ghazali Baina Madihihi wa Naqidihi, atau Imam Al-Ghazali: Antara Para Pemujinya dan Pengecamnya)



Abu Hamid Zainuddin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali



Uraian Tentang Makna Ruh, Hati, Nafs dan Akal

Keempat nama (kata) tersebut digunakan dalam topik ini, namun hanya sedikit saja diantara para pakar dan ulama besar yang benar-benar mengetahui tentang maknanya, definisinya, cakupannya dan apa saja yang dimaksud dengannya. Karenanya, kami akan menguraikan pelbagai makna yang tercakup dalam kata-kata tersebut, sekadar yang berkaitan dengan tujuan kami.

Kata Pertama: Ruh
Kata ini -dalam kaitannya dengan topik yang sedang kita bahas- berkaitan dengan dua makna tertentu. Pertama, sesuatu yang abstrak (tidak kasat mata), yang bersemayam dalam rongga "hati biologis", dan "mengalir" melalui urat-urat dan pembuluh-pembuluh, keseluruh anggota tubuh. Adapun mengalirnya dalam tubuh dengan membawa limpahan cahaya-cahaya kehidupan, perasaan, penglihatan, pendengaran dan penciuman kedalam semua anggota badan, adalah ibarat melimpahnya cahaya dari pelita yang dikelilingkan keseluruh penjuru rumah. Setiap kali pelita itu sampai kesebuah ruangan, maka ruangan itu menjadi terang karenanya.

Adapun permisalan kehidupan adalah Ibarat cahaya diatas dinding-dinding rumah. Sedangkan ruh adalah ibarat pelita. Maka melimpah ruh serta geraknya dalam batin seseorang, sama seperti geraknya pelita diseluruh penjuru rumah, akibat gerakan si penggerak. Makna seperti itu pulalah yang dimaksud oleh para ahli medis apabila menyebutkan tentang ruh. Yakni, mirip dengan bukhar (uap atau gas) lembut yang dimatangkan oleh kehangatan hati. Namun, bukan makna itu yang kami maksudkan, sebab yang demikian itu hanya menjadi objek perhatian para dokter atau ahli medis yang menangani kesehatan badan. Sedangkan tujuan para "ahli kesehatan agama" adalah penanganan hati manusia sehingga menariknya ke sisi Allah Swt, Rabb Al-Alamin. Karenanya, makna "ruh" seperti yang dipahami oleh para "ahli kesehatan badan" sama sekali tidak berkaitan dengan yang dipahami oleh para "ahli kesehatan agama".

Makna kedua dari kata "ruh" (yakni yang dimaksud dalam pembahasan ini, dan sebagaimana dipahami oleh para "ahli kesehatan agama") adalah bagian dari manusia, berupa lathifah (atau sesuatu yang bersifat abstrak, tidak kasat mata) 'yang memiliki kemampuan untuk mengetahui dan mencerap'. Itulah pula yang dimaksud dalam firman Allah Swt. "Mereka bertanya kepadamu (wahai muhammad) tentang ruh. Katakanlah, ruh itu adalah amr Rabbi (urusan khusus tuhanku..)" (QS. Al-Isra': 85). Begitulah, ruh memang ciptaan Allah yang amat sangat menakjubkan, membuat kebanyakan akal dan pemahaman manusia tak berdaya meliputi pengetahuan tentang Hakikatnya.

Kata Kedua: Hati
Kata ini digunakan untuk dua makna tertentu:
Makna pertama, sepotong 'daging' berbentuk buah sanaubar, yang terletak dibagian kiri dada, didalamnya terdapat rongga berisi darah hitam. Dan disitu pula sumber (atau pusat) ruh. Akan tetapi, kami saat ini tidak bermaksud hendak menguraikan tentang bentuknya ataupun fungsi biologisnya, sebab yang demikian itu adalah objek wacana para ahli medis, tidak berkaitan dengan tujuan-tujuan keagamaan. Apalagi organ hati ini tidak hanya ada dalam tubuh manusia saja, tetapi juga dalam tubuh hewan, bahkan juga orang yang sudah mati. Karenanya, apabila kami menyebutkan kata 'hati' dalam tulisan ini, maka yang dimaksudkan bukanlah 'organ hati' tersebut. Sebab ia -dalam kaitannya dengan topik yang sedang kita bahas sekarang- tak lebih dari sepotong daging tak berharga, yang ada dalam alam duniawi yang kasat mata ('alam al-mulk wa asy-syahadah), yang bentuknya dapat dilihat oleh mata hewan-hewan, apalagi manusia.

Makna kedua, hati (qalb, kalbu) adalah sebuah lathifah (sesuatu yang amat halus dan lembut, tidak kasat mata, tak berupa dan tak dapat diraba), yang bersifat Rabbani Ruhani, meski ada juga kaitannya dengan 'organ hati'. Lathifah tersebut sesungguhnya adalah jati diri manusia atau hakikatnya. Dia adalah bagian dari (komponen) utama manusia yang berpotensi mencerap (memiliki daya tanggap atau persepsi), yang mengetahui dan mengenal, yang ditujukan kepadanya segala pembicaraan dan penilaian, dan yang dikecam dan dimintai pertanggung jawaban. Meski demikian, hati (atau qalb) dalam makna seperti ini, tetap memiliki kaitan dengan hati biologis, meski akal kebanyakan manusia senantiasa dalam kebingungan ketika hendak mengetahui sejauh mana dan bagaimana bentuk keterkaitannya itu.

Adapun keterkaitannya itu sesungguhnya mirip dengan keterkaitan 'aradh (aksiden, sifat-sifat yang berubah-ubah) dengan jisim; atau keterkaitan antara sifat dengan benda yang disifati, atau keterkaitan antara seorang pengguna alat dengan alat itu sendiri, atau keterkaitan antara yang menempati dengan sesuatu yang ditempati. Namun uraian lebih rinci tentang semua itu, sedapat mungkin kami hindari, mengingat dua hal: Pertama, karena yang demikian itu termasuk dalam 'ilmu'l-mukasyafah (atau pengetahuan yang dicapai lewat penyingkapan spiritual), sedangkan tujuan kami dalam tulisan ini hanyalah yang termasuk dalam 'ilmu'l-mu'amalah' (atau pengetahuan yang berkaitan dengan interaksi antar manusia). Dan Kedua, pentahkikan tentang hal itu sama dengan upaya menyingkap rahasia Ruh, sedangkan yang demikian itu bahkan tidak pernah diungkapkan oleh Rasulullah Saw. Maka tak siapapun manusia selain beliau berhak membahasnya.

Kesimpulannya, apabila -dalam tulisan ini- kami menyebutkan kata 'hati' begitu saja (tanpa keterangan khusus), maka yang dimaksud adalah lathifah sebagaimana telah diuraikan diatas -tentang sifat-sifatnya serta kondisi-kondisi yang menyertainya- bukan hakikat zatnya. Sebab, dalam ilmu mu'amalah (yang berkaitan dengan topik pembahasan ini) hanya perlu mengetahui tentang sifat-sifat dan pelbagai kondisi yang menyertai sesuatu, dan tidak perlu mengetahui tentang hakikatnya.

Kata Ketiga: Nafs
Kata nafs juga mengandung beberapa makna (jiwa, sukma, diri, nafsu dan sebagainya). Namun yang berkaitan dengan pembahasan kita kini adalah dua makna saja: Pertama, yang (dalam bahasa Indonesia sama dengan kata 'nafsu') mencakup fakultas emosi atau amarah (ghadab) dan ambisi atau hasrat (syahwah) dalam diri manusia, sebagaimana akan diuraikan kemudian. Makna seperti inilah yang sering kali digunakan dikalangan para ahli tasawuf, karena mereka mengartikan kata nafs (nafsu) sebagai sesuatu yang mencakup sifat-sifat tercela pada diri manusia. Itulah sebabnya mereka menegaskan tentang keharusan melawan nafsu ataupun mengekangnya. Makna seperti ini, diisyaratkan dalam sabda Nabi Saw., "Musuhmu yang terbesar adalah nafsumu yang berada dalam dirimu".

Makna Kedua kata nafs adalah serupa dengan salah satu makna 'hati' yang telah diuraikan diatas: sesuatu yang abstrak yang membentuk diri manusia secara hakiki. Walaupun demikian, nafs ini dilukiskan dengan berbagai macam sifat sesuai dengan berbagai keadaannya yang berbeda-beda. Jika ia dalam keadaan selalu tenang dan tenteram (dalam menerima ketentuan Allah Swt.) dan terhindar dari kegelisahan yang disebabkan oleh pelbagai macam godaan ambisi, maka ia disebut nafs muthmainah (jiwa yang tenang dan tenteram). Seperti dalam firman Allah Swt., "Wahai nafs muthmainah, kembalilah kepada Tuhanmu, dalam keadaan redha dan diredhai sepenuhnya". (QS. Al-Fajr [89]: 27)

Sebaliknya, jika sifat nafs manusia seperti dilukiskan dalam makna negatif sebelum ini, tidaklah dapat bayangkan kembalinya kepada Allah Swt. Bahkan ia akan dijauhkan sejauh-jauhnya dari Allah Swt., dan termasuk dalam kelompok setan. Sedangkan apabila ia selalu gelisah karena berada dalam kondisi perlawanan terhadap godaan syahwat hawa nafsu, maka ia disebut nafs lawwamah (atau jiwa yang senantiasa mengecam). Karena ia selalu menyesali dirinya sendiri atas kelalaiannya dalam melakukan pengabdian kepada Tuhannya. "..dan Aku (Allah Swt.) bersumpah dengan nafs lawwamah (jiwa yang selalu mengecam).." (QS. Al-Qiyamah [75]: 2).

Selanjutnya, jika nafs ini tidak berusaha menyesali dirinya, bahkan senantiasa tunduk patuh kepada dorongan hawa nafsu dan memperturuti bisikan setan, maka ia disebut nafs ammarah bis-su' (nafsu yang menyuruh kepada kejahatan). Seperti dalam firman Allah Swt., menirukan ucapan Yusuf A.s. ataupun isteri Al-Aziz, raja Mesir, "..dan aku tidak hendak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan". (QS. Yusuf [12]: 53).

Boleh juga dikatakan bahwa yang dimaksud dengan 'nafsu yang menyuruh kepada kejahatan' adalah seperti dalam makna pertama diatas. Maka jelaslah bahwa nafs dalam makna pertama (atau hawa nafsu) adalah sesuatu yang amat sangat tercela. Sedangkan nafs dalam makna kedua adalah terpuji, karena ia adalah jati diri manusia itu sendiri, yang memiliki potensi untuk mengetahui tentang Allah Swt. maupun tentang segala sesuatu yang lain.

Kata Keempat: 'Aql (Akal)
Kata ini juga mengandung beberapa makna. Adapun yang berkaitan dengan topik kita sekarang adalah dua makna saja. Pertama, yang dimaksud dengan kata 'aql (akal) adalah 'pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu yang bertempat didalam hati'. Kedua, yang dimaksud dengan kata 'akal' adalah 'bagian (dari manusia) yang memiliki kemampuan untuk mencerap pengetahuan'. Yakni sama dengan 'hati' dalam arti lathifah seperti telah disebutkan diatas. Dan kita mengetahui bahwa dalam diri setiap orang ada'sesuatu' (wadah) yang menampung pengetahuan. Selanjutanya, pengetahuan adalah sifat yang menetap dalam 'wadah' tersebut. Jadi, pengetahuan tidak identik dengan 'wadah' yang menampungnya. Oleh sebab itu, kata 'akal' adakalanya digunakan untuk menyebutkan tentang sifat yang melekat pada diri orang yang berpengetahuan, dan adakalanya juga untuk menyebutkan tentang wadah pengetahuan dalam diri orang itu. Dan itulah barangkali yang dimaksud dalam sabda Nabi Saw., "Yang pertama kali diciptakan Allah Swt. adalah akal". Sebab, pengetahuan adalah sesuatu yang bersifat 'aradh (aksiden), tidak dapat dibayangkan sebagai ciptaan (makhluk) yang pertama. Tentunya wadahnya telah tercipta sebelumnya atau bersamaan dengannya. Juga karena tidak mungkin ditujukan pembicaraan kepadanya. Dalam kelanjutan hadis itu disebutkan bahwa Allah Swt. berkata kepadanya, "Datanglah!" maka ia pun datang. Kemudian diperintahkan kepadanya, "Pergilah" maka ia pun pergi. (Al-Hadis).

Nah, kini moga-moga telah tersingkap bagi anda tentang pelbagai makna dari keempat kata tersebut. Yaitu, Ruh (jasmani); Hati (jasmani); Nafs (dalam arti 'hawa nafsu') dan 'Aql (dalam arti pengetahuan). Semuanya empat makna dalam empat kata. Dan masih ada lagi makna kelima berkenaan dengan kata 'akal', yaitu 'suatu komponen yang amat halus dan tidak kasat mata (atau lathifah) dalam diri manusia, yang dengannya ia dapat mencerap, mengerti dan memahami'. Begitulah, terdapat lima makna dalam empat kata. Sedangkan masing-masing kata digunakan untuk dua makna.

Dalam pada itu, tidak sedikit diantara para Ilmuwan yang kebingungan dalam perincian makna-makna yang terkandung dalam keempat kata tersebut maupun dalam cara penggunaannya. Karenanya, mereka berbicara tentang khawathir (kata jamak dari khathir) atau 'pikiran-pikiran yang melintas didalam hati'. Yaitu dengan menggunakan kalimat seperti, "Ini adalah khathir (pikiran yang melintas) dalam benaku (atau akalku)". Atau, "..dalam hatiku". Atau, "..dalam jiwaku", dan sebagainya. Sementara itu, si pembicara tidak benar-benar mengerti tentang berbagai makna dari kata-kata tersebut. Maka dengan maksud menyingkap makna-makna tersembunyi itulah kami berikan uraian diatas.

Dan setiap kali disebutkan kata hati (al-qalb) dalam Al-Quran maupun Al-Hadits, maka yang dimaksud adalah 'sesuatu yang dengannya manusia mampu memahami dan mengetahui tentang hakikat segala sesuatu'. Adakalanya ia diisyaratkan juga dengan 'kalbu (qalb) yang berada didalam dada'. Sebab, bagaimanapun juga, antara hati yang berujud lathifah dan organ hati terdapat keterkaitan khusus. Meskipun ia terkait juga dengan seluruh anggota tubuh dan berfungsi didalamnya, namun semua itu berlangsung melalui dan dimulai dari hati. Seolah-olah hati adalah tempat tinggalnya, kerajaannya, alamnya dan kendaraannya. Itulah sebabnya Sahl At-Tustari memisalkan hati sebagai singgasana, sementara dada sebagai tahta. "Hati adalah singgasana, dan dada adalah tahta", begitulah ujarnya. tetapi janganlah dikira bahwa yang ia maksudkan adalah singgasana ('Arsy) Allah Swt. serta tanta (kursiy)-Nya. Sebab yang demikian itu mustahil adanya. Namun yang ia maksudkan adalah kerajaan dirinya sendiri, sebagaimana ruang untuk pemikirannya serta kegiatannya. Walaupun demikian, permisalan tersebut tidak terlau tepat kecuali dari beberapa sisinya saja. Namun uraian lebih rinci lagi tentangnya, tidak sesuai dengan tujuan kami sekarang ini. Maka sebaiknya kita tinggalkan saja. --