Pasukan tentara hati yang berupa ghadhab (emosi) dan syahwah (ambisi), adakalanya tunduk patuh secara sempurna kepada hati, sehingga menjadi pembantu setianya dalam 'perjalanan' yang ia lakukan, dan menjadi teman sejati yang senantiasa menyertainya dalam melaksanakan tugasnya itu. Akan tetapi adakalanya juga, kedua 'tentara' itu bersikap membangkang secara aniaya dan durhaka. Sedemikian rupa, sehingga justru menguasai hati, dan bahkan memperbudaknya secara sempurna, mengakibatkan kebinasaannya dan menghentikan perjalanan yang seharusnya ia lakukan demi mencapai kebahagiaan abadinya.
Hati juga mempunyai tentara yang lain, yaitu Ilmu, Hikmah dan Tafakur, seperti yang akan diuraikan kemudian. Maka seharusnya ia mencari bantuan dari mereka --mengingat mereka adalah HizbuLLah (kelompok atau 'partai' Allah)-- dalam upaya memerangi kedua tentara yang lain (yakni tentara ghadhab dan syahwah). Karena kedua-duanya besar sekali kemungkinannya bergabung dengan Hizbu'sy-syaithan (partai setan).
Adapun jika ia tidak mencari bantuan dari ketiga tentara diatas (yakni ilmu, hikmah dan tafakur), lalu menguasakan tentara ghadhab dan syahwah atas dirinya sendiri, maka ia pasti akan binasa dan merugi sebesar-besarnya kerugian!
Dan memang begitulah keadaan sebagian besar manusia. Akal mereka telah diperbudak oleh pelbagai dorongan syahwah guna menciptakan pelbagai variasi sarana pemuas hawa nafsu mereka. Padahal yang seharusnya dikakukan adalah justru menjadikan syahwahnya terkendali sepenuhnya oleh akal, agar dapat digunakan untuk kepentingannya. Untuk lebih menjelaskan hal itu, dibawah ini akan kami berikan tiga permisalan.
Misal Pertama, dengan mengibaratkan jiwa (atau hati) manusia --dalam pengertian sebagai lathifah yang merupakan jati dirinya, seperti telah dijelaskan pada permulaan tulisan ini-- sebagai seorang raja dipusat Negara dan Kerajaannya. Ini mengingat bahwa tubuh merupakan pusat kerajaan bagi jiwa, juga dunianya dan kota tempat tinggalnya. Sedangkan anggota-anggota tubuhnya serta segala daya dan potensi dirinya adalah ibarat para teknisi dan pekerja. Akal pikirannya sebagai penasihat yang tulus merangkap sebagai menteri yang pandai dan berakal. Sedangkan syahwah (ambisi)-nya ibarat seorang budak yang buruk perilakunya, yang tugasnya adalah mengangkut makanan dan barang-barang keperluan kedalam kota, sementara ghadhab (emosi)-nya serta naluri pembelaan dirinya yang bersemangat, ibarat petugas kepolisian. Budak yang bertugas menyediakan barang-barang tadi adalah juga seorang pendusta jahat yang berpura-pura sebagai penasihat, padahal dibalik nasihatnya tersembunyi kejahatan besar, serta racun yang mematikan. Dengan watak dan tabiatnya yang buruk itu, ia senantiasa berupaya melawan si menteri yang tulus, dalam pemikiran maupun peraturan-peraturan yang dibuatnya. Sedemikian rupa sehingga tak sesaatpun berlalu tanpa gangguan yang ditujukan kepadanya. Maka jika si raja senantiasa mendengarkan nasihat menterinya yang pandai dan tulus itu (yakni akal sehatnya) dalam pengelolaan negerinya, sementara ia tak sedikitpun menghiraukan apa yang diucapkan oleh si budak jahat (yakni syahwahnya), karena menyadari bahwa kebenaran justru terletak pada pemikiran yang berlawanan dengan keinginan si budak, maka ia akan memerintahkan aparat kepolisiannya (yakni ghadhabnya) untuk menangani tingkah laku kejahatan si budak, dengan mendidiknya sebaik mungkin, agar ia bersedia tunduk dan patuh terhadap kebijaksanaan sang menteri. Disamping itu, ia senantiasa waspada terhadap ulah si budak serta orang-orang yang menjadi pengikutnya atau kawan-kawannya, sehingga mereka ini menjadi kelompok yang dikendalikan, bukan yang mengendalikan; dan yang diperintah dan diatur, bukan yang memerintah dan yang mengatur. Jika seperti itu keadaannya, maka negeri itu akan menjadi makmur dan teratur dan keadilanpun akan dapat ditegakan dengan baik.
Begitu pula jiwa manusia, sepanjang ia menggunakan bantuan akal sehat, dan mampu mengendalikan sifat ghadhab (emosi)-nya, lalu memberinya kekuasaan atas syahwah (ambisi atau hawa nafsu)-nya, kemudian menguasakan yang satu atas yang lain demi mencapai kestabilan. Yaitu dengan cara kadang-kadang mengurangi kadar ghadhab dan gejolaknya, dengan membiarkan adanya perlawanandari syahwah, atau dengan cara menariknya secara perlahan-lahan dan bijaksana. Atau diwaktu yang lain, melakukan upaya represif terhadap syahwahnya itu, dengan memerintahkan kepada sifat ghadhab agar melakukan pengekangan dan penekanan kuat terhadapnya. Dengan demikian dapatlah diharapkan timbulnya keseimbangan serta perilaku yang terpuji dari syahwah (nafsu atau ambisi)-nya itu. Tanpa upaya-upaya seperti itu, ia akan menjadi seperti dalam firman Allah Swt., "Tidakkah kau lihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, sementara Allah membiarkannya sesat.." (QS. Al-Jatsiah [45]: 23). Atau dalam firman-Nya, "..ia mengikuti hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing; jika kamu menghalaunya, ia menjulurkan lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, ia (tetap) menjulurkannya.." (QS. Al-A'raf [7]: 176). Demikian pula firman Allah tentang orng yang mencegah dirinya daripada mengikuti hawa nafsunya, "Adapun siapa-siapa yang takut kepada maqam (keagungan) Tuhannya, dan mencegah dirinya daripada mengikuti hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga-lah yan menjadi tempat tinggalnya.." (QS. Nazi'at [79]: 40-41).
Misal Kedua, tubuh manusia ibarat sebuah kota, dengan akal dalam kedudukannya sebagai seorang raja yang memerintah dan mengatur kota tersebut. Sedangkan seluruh indera dan potensi dirinya --yang lahiriah maupun batiniah-- adalah ibarat tentara-tentara atau pembantu-pembantunya, dan anggota tubuhnya sebagai rakyatnya. Adapun nafsunya yang mendorong kearah kejahatan (al-ammarah bis-su') yang dipenuhi emosi dan ambisi, adalah ibarat musuh yang berusaha merebut kekuasaannya atas kota tersebut, bahkan berusaha menghancurkan rakyatnya. Maka tubuhnya itu menjadi laksana benteng, sementara hati (jiwa)-nya sebagai penanggung jawab didalamnya, yang bertugas menyelamatkan benteng tersebut. Apabila ia memerangi musuh dan mengalahkan mereka sesuai dengan tugasnya, maka ia akan beroleh pujian ketika menghadap kembali kepada Allah, dalam keadaan seperti dilukiskan dalam firman-Nya: "Allah mengutamakan orang-orang yang berjihad (dijalan Allah) dengan harta dan jiwa mereka, satu derajat diatas orang-orang yang tetap tinggal (yakni tidak ikut berjihad).." (QS. An-Nisa' [4]: 95). Sebaliknya, apabila ia melepaskan benteng-benteng tersebut dan menelantarkan rakyatnya, maka perbuatannya itu pasti mendatangkan kecaman keras, bahkan balasan keburukan disisi Allah Swt. seraya dikatakan kepadanya pada hari kiamat kelak, "Wahai gembalabusuk, engkau telah memakan daging dan meminum air susu (dari hewan gembalamu), tapi tidak melindungi yang tersesat dijalan dan tidakmemenuhi kebutuhan si penderita. Hari ini Aku menuntut balas atas dirimu". Tentang jihad seperti tersebut diatas juga diisyaratkan dalam sabda Nabi Saw.: "Kini kita pulang dari jihad kecil menuju jihad terbesar".
Misal Ketiga, perumpamaan akal ibarat seorang penunggang kuda yang sedang berburu. Adapun ambisi dalam hatinya diibaratkan seperti kudanya, sedangkan emosinya seperti anjingnya. Apabila si penunggang kuda seorang yang cerdas, sementara kudanya terlatih dan anjingnya terdidik, maka patutlah ia beroleh sukses. Tetapi apabila ia sendiri seorang bebal, sementara kudanya liar dan anjingnya gila, maka kudanya itu takkan menuruti perintahnya, sementara anjingnya takkan patuh kepadanya. Maka lebih besar kemungkinannya ia menemui kebinasaan daripada meraih keberhasilan. Adapun kebebalan si penunggang kuda dapat disamakan dengan kedunguan seorang manusia yang sedikit sekali kebijakannya dan amat picik pandangannya. Sedangkan keliaran kudanya disamakan dengan syahwah atau kerakusan hatinya yang sangat dominan, terutama kerakusan perut dan alat kelaminnya. Adapun tentang kegilaan anjingnya adalah ibarat kuatnya dominasi emosi atas dirinya sendiri. Demikianlah, kepada Allah Swt. kita memohon taufiq dan petunjuk-Nya. --
